" Wadah Perca-perca Mimpi Sebelum Terburai Melangit " (B.E.J.)

Minggu, 09 Maret 2014

Sajak Lelaki


Aku tahu mengapa Hawa merengek pada Adam untuk dipetikkan kuldi barang satu buah saja

Aku paham di balik gairah meletup-letup Zulaikha menjerat paras rupawan Yusuf yang gulana

Aku sadar ada apa hingga Bilqis rela menyeberangi pusara badai hanya untuk memanjakan retinanya pada Sulaiman

Itu semua karena lelaki!

Rusuk ini akan ada pada tempatnya yang pas, dalam tubuhmu
Sela-sela jemari akan tergenggam hangat pada kepingan jarimu
Dan tak menyisakan sangkalan bahwa lekuk seni Tuhan ini kelak akan kau nikmati di bawah kudus kasihNya

Duhai lelaki, apapun yang terjadi akulah Hawa yang membumikanmu dari surga
Akulah Zulaikha yang menjobloskanmu dalam terali
Dan akulah Bilqis yang menghujamkan sehunus pedang safir di jantung hatimu

Maka lelaki, jangan pernah kau sakiti aku
karena derita itu bermula dari elokmu!

-Sajak Lelaki- BEJ

Dongeng Saya dan Anda


Saya suka sekali meledak-ledakkan emosi saat berkisah dan anda sangat murah mengumbar senyum untuk melegakan lilit kesah saya.

Saya selalu tidak yakin dengan hal baru, menganggap kemungkinan terburuk selalu terjadi di setiap episode tantangan.
Anda, menajamkan telinga dengan sopan sembari berkata, "Percayalah, kau sangat bisa lebih dari keyakinanmu!"

Saya banyak tidur dan mengkhayal akhir kisah cinta indah yang mungkin suatu hari menghampiri saya.
Anda hanya sekejap memejamkan mata dan banyak berpikir realistis tanpa membenamkan khayalan pangeran dongeng saya.

"Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta"
Rupanya satu hal itu yang saya dan anda genggam.
Semoga meski tak abadi, anda tak menyesali apa yang pernah terjadi.

Terima kasih telah membebaskan ikat sesak di dada musabab lama tidur tak
lelap saya.

(Dongeng Saya dan Anda-BEJ)

Jumat, 07 Maret 2014

Ayo, Mandi!


Selanjutnya apa? Papandayan, Gede, Pangrango, Rinjani, Krakatau, Kerinci, atau bahkan Semeru?

Langit belum mau baik, sayang
Dia masih menyimpan sekarung air matanya
Siap memandikan gersang khatulistiwa

Ah, rupanya aku juga sama baunya
Layak bumi ini yang basin sebab bangkai tikus dasi

Aku juga sama kotornya
Bagai lerehan spanduk caleg di trotoar raya jalan

Maka aku akan turun ranjang dan bergegas mandi besar
Mumpung ini Jumat, alangkah indahnya
Jika malaikat mengumbar wangi kesturi surga


Cipratan wangi kesturi surga
dari ungaran sabunku
Melunturkan seluruh kotor dan
bau di lekuk tubuh biadabku


Tapi apakah hujan akan meluruhkan bau dan kotoran jeluk  tubuh ibu pertiwi di Jumat ini?

Mungkin benar, akan kutanyakan pada Tuhan di puncak jabal nanti jika aku sudah mandi.

(Ayo, Mandi!-BEJ)

Senin, 24 Februari 2014

Lekas Sembuh


Aku rindu pada tas keril menggembung di pundak
Aku rindu pada Knee Deep yang kita putar saat trek mulai menanjak
Aku rindu pada choky-choky yang kita lumat habis jika telah lelah menceracau
Aku rindu pada peluh kebas yang membasahi kaos panjang kita
Aku rindu pada nasi keras setengah matang
Aku rindu pada tenda pinjaman yang belum sempat kita beli
Aku rindu pada When My Time Comes yang melantun indah di malam berbintang


Sudahkah kukirim pesan bahwa aku rindu padamu?
Pada tatap selidikmu akan kisah cintaku yang baru
Sudahkah kukabarkan bahwa aku rindu ucap ngeyelmu menentukan arah mana yang akan kita tempuh tanpa navigasi?

Ya, aku rindu pada kabut
Juga pada embun, pada tanah basah, pada encok pinggang, pada kulit merah terbakar terik, pada betis membengkak, padamu dan pada gunung.

Lekas sembuh!
Maka akan kita daki gunung-gunung yang kita angankan dulu jika mereka juga telah sehat
Karena kita pendaki, maka akan kita daki apa yang kita angankan agar menjelma sebuah kenangan.

(BEJ)

Rabu, 08 Januari 2014

BADUY: "Pesan Ambu, Ridho Nak!"



Nyalahan We're Coming!
"Jembatan akar jauhkah?" tanya saya sebelum meninggalkan rumah jaro, sebelumnya pertanyaan ini telah saya lontarkan pada Doni dan ia menjawab "Jauuuuuh". Kali ini saya tanyakan pada Sapri, dan ia menjawab "Jauh. Mau lewat sana, Bel?" tanyanya. "Berapa kilo kira-kira?" saya masih belum menyerah untuk melihat ikon Baduy yang terkenal itu. "Ya, sekitar 16 kilo kalau sampai Cibeo". "Gimana, Mas?" tanya saya meminta persetujuan pada senior. "Ya, ayo monggo aja". Mendengar jawaban senior saya yang mantap, saya tidak ragu untuk mengangguk mengiyakan pertanyaan Sapri. "Mumpung langit lagi baik!" jawab saya semangat. 

Here We are! Petualangan menjelajahi kampung Baduy yang tersohor pun segera dimulai. Kami berempat memulai trekking setelah sebelumnya bernegosiasi masalah jarak dan waktu yang akan kami tempuh. Memang kami tidak dikejar target harus sampai tujuan pukul berapa, namun ada baiknya jika menyamakan persepsi terlebih dahulu. Karena bisa jadi dekat menurut Sapri dan Doni, namun jauh menurut saya dan senior seperjalanan dan bisa jadi jauh menurut mereka berdua, berarti lebih jauh lagi menurut kami. 

Bismillahirrahmanirrahiim. Dengan menyertakan Dia di setiap langkah, kami pun bergegas melangkah menemui nyalahan. Rute menuju jembatan akar berbeda dengan rute menuju kampung Baduy Luar dan Dalam dari Kaduketu yakni kampung Baduy Luar pertama yang akan pengunjung temui jika melalui gerbang "Selamat Datang di Baduy" setelah turun dari Elf Ciboleger.

Perkampungan masyarakat luar Baduy

Senin, 06 Januari 2014

Meneropong Fenomena "Oplosan"


Opo ora eman duite (Apa tidak sayang uangnya)
Gawe tuku banyu setan (Buat beli air setan)
Opo ora mikir yen mendem (Apa tidak berpikir kalau mabuk)
Iku biso ngerusak pikiran (Itu bisa merusak pikiran)

            Masyarakat Indonesia menjadi lebih energik akhir-akhir ini lantaran banyak program tv yang menanyangkan dan mengajak masyarakat untuk bernyanyi dan bergoyang bersama. Sebut saja acara Yuk Keep Smile yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta berhasil menghebohkan masyarakat dengan berbagai macam goyang. Setelah sukses dengan goyang Buka Sitik Joss yang diprakarsai oleh artis bernama Caisar, kali ini tidak mau ketinggalan goyang Oplosan pun mendadak melejit karena dipopulerkan oleh pesinden dan penyanyi serba bisa, Soimah. 

            Goyang yang dilakukan dengan menghadap samping dan menggoyangkan pinggul naik-turun ini merupakan suatu gebrakan baru. Mengesampingkan apakah acara ini layak untuk ditonton oleh anak-anak atau hanya legal ditonton oleh sebagian orang, goyang Oplosan dilatari oleh lagu dan musik yang rancak sehingga siapa pun yang mendengarnya ikut terlena dan menikmatinya.

            Namun, tahukah anda bahwa lagu Oplosan ini dibuat bukan tanpa alasan? Lagu ini diciptakan oleh Nur Bayan, seorang  penulis lagu yang berasal dari Kediri-Jawa Timur. Bayan mengaku bangga karena lagu ciptaannya berhasil diterima masyarakat luas tepatnya setelah dipopulerkan oleh Soimah.

Jumat, 03 Januari 2014

BADUY: "Karena Bahagia itu Sederhana"


Baduy, sebuah mimpi lama
Keinginan untuk menyambangi saudara-saudara luar biasa yang terkumpul dalam satu komunitas "suku Baduy" telah mengetem lama di benak saya sejak Desember 2012 lalu. Kampung Baduy yang berada di Banten tepatnya daerah Ciboleger berhasil menyadap pikiran saya tentang peradaban manusia suci yang tidak terjamah oleh modernisasi dan alat-alat elektronik beserta sosial media yang saat ini menjadi kebutuhan pokok orang-orang banyak termasuk saya sendiri.
            Jadilah, setelah saya mendapat kesempatan berkuliah di sebuah universitas di Jawa Barat (karena saya bingung kampus saya ini statusnya milik Jakarta atau Tangerang Selatan -_-), saya manfaatkan objek-objek dolen yang ada di sekitar. Dan tujuan utama saya adalah mimpi lama ke peradaban manusia suci yang namanya banyak digaung-gaungkan di forum backpacker Indonesia: BADUY!
***
            Bertemu manusia impian!
Sebelum saya berangkat, Sabtu dulu sekali saya melihat empat orang berpakaian putih dan ada yang berpakaian hitam mengenakan ikat kepala putih berjalan tanpa alas kaki dengan menjinjing tas kain yang menggembung di punggung mereka. "Sumpah! Mereka ada, aku nggak mimpi!" kata saya pada seorang teman ketika saat itu kebetulan sedang jalan keluar membeli makan di sebuah warung. "Apa sih, Bel?" tanya kawan saya. "Ituuuu! Merekaaaaa!" Saya menunjuk-nunujuk empat orang yang punggungnya segera menjauh dari pandangan. Saya tak kuasa membahasakan kekaguman yang saya lihat. "Ooh, orang Baduy. Mereka memang sering lewat sini mbak. Kayaknya belanja keperluan. Pernah saya ajak makan di sini, mereka nggak mau pakai sendok sama garpu. Maunya pakai tangan", ujar pemilik warung tempat saya beli makan, ternyata virus kepo juga sudah mulai menyebar kepada dia. Hahaha. Wah, sejak saat itu saya terus melanjutkan kekepoan saya terhadap suku Baduy yang nyata adanya. Saya harus bisa makan bersama mereka! Satu kalimat itu yang saya tancapkan kuat-kuat setelah pulang dari warung itu.