" Wadah Perca-perca Mimpi Sebelum Terburai Melangit " (B.E.J.)

Minggu, 27 Mei 2012

Nilai Tugas Akhir, Pertanggung jawaban Masa Depan!


Sambutlah Aku Dalam Halalmu

Pernikahan-Dinikahkan-Dinikahi-Menikahkan-Menikahi-Menikah, berasal dari satu kata dasar yang sama yakni nikah. Secara bahasa nikah berasal dari kata نَكَحَ – يَنْكِحُ – نِكَاحًا yang berarti الدَحْم (mengawini) atau الخَجأ (menggauli). Dan secara istilah nikah adalah sebuah akad yang menghalalkan bagi kedua belah pihak untuk bersenang-senang sesuai dengan syariat. Namun, hingga tulisan ini ditorehkan, saya masih belum bisa memahami sepenuhnya makna dari nikah tersebut. Karena mungkin saat ini, belum saatnya saya mengerti tentang makna satu kata sakral itu.

Selasa, 21 Februari 2012

Musisi Akuntasi

"Suatu perubahan kebudayaan masyarakat yang mempengaruhi norma, sikap, nilai, dan sistem sosial secara blaa...blaa...blaa...." Baiklah hari ini guru IPS ku kembali melaksanakan kewajibannya yakni mentransfer ilmu kepada murid-muridnya. Dengan gaya yang sebagaiman abiasanya, pak guruku ini menerangkan panjang lebar dan seperti biasanya pula temen-temenku ples aku sudah menyiapkan obat nyamuk untuk dibakar.

Pelajaran IPS jadi tambah boring waktu bahas soal ulangan harian minggu lalu. Kali ini spesifikasinya di Sosiologi. Halah...halah..., bukannya malah ndengerin pak guru ganteng didepan ini mbahas malah pada banyak yang mblakrak kesana kemari. Ada yang sibuk sama laptopnya lah, ada yang sibuk sama buku sketsnya lah, ada yang sibuk ngedumel saking susahnya soal yang dibikin sama pak guruku ini, ada yang lebih kurang ajar lagi main gitar ditengah-tengah pembahasan soal. Ckckck..., untung aja pak guruku ini sabar banget. Nah, anak-anak yang uah bad mood dari pagi karena serangan ulangan fungsi komposisi jadi tambah nggak mood diajak bergelut dengan soal-soal sosial yang menurut kami sangat bertele-tele.

"Pak! Ayo main gitar aja!" Celetuk salah seorang temenku, yang baru inget bahwa guru pelajaran IPS ku ini (mencakup, geografi, sosiologi, ekonomi, namun fokus beliau di akuntansi) adalah mantan musisi terkenal (dapet curhatan dari guru2 lain sih. he he).
"Nggak, hari ini kita pembahasan soal ya anak-anak! Diperhatikan baik-baik, ini soal-soal akan saya keluarkan di UTS akhir Maret nanti." Masih dengan T.E (tanpa ekspresi) nya bapak guruku berujar seperti itu.
"Yaaaah, bapak.....!" Kompak seisi kelas bergumam kecewa.
Tiba-tiba seorang temenku cewek menodong guru gantengku ini dengan membawa gitarnya ke meja guru, "Pak ayolah main sekali aja! Ya pak?" Tanyanya tidak berperi kepembahasan soal sosiologian.
"Nggak, saya sudah lupa cara mainnya, lagi pula hari ini jadwal kita membahas soal." Bapak guruku ini memepertahankan penderiannya.
"Ya pak....? SEKALI AJA....!" kali ini rayuan maut terdengar dari seisi penghuni kelasku.
"Nggak, kalian aja yang main nanti saya lihat!" Aura musisi handal dari guruku ini mulai terpancar.
"Yaaaah, bapak! Jadi nggak semangat ini!" Anak-anak berlagak nggak punya semangat hidup, sdampe-sampe ada yang mau akting gantung diri. :P
"Hmmm...." Guruku ini masih berrpikir keras seolah-olah memikirkan soal neraca saldo yang tidak beres yang debet sama kreditnya nggak imbang bermilyar lmilyar.
"Iya deh pak.....!" Masih berusaha merayu guruku yang berpotur tinggi banget (maklum, beliau juga nyambi sebagai atlet voly tangguh.) :)
"Ya sudah, tapi kita pembahasan soal dulu ya....! diperhatikan baik2 yaa nak-anak!" Yes! Jurus rayuan maut pun ternyata berhasil!
"Yeeeeeeee......!" Akhirnya sekelas sepakat buat pembahasan soal konflik sosial, stratifikasi sosial, modernisasi, globalisasi, westernisasi, sampe ASI sekalipun. (Ya nggak lah!) Pokoknya sekelas akhirnya setuju buat mbahas soal namun dengan niat yang sudah melenceng. :D


Senin, 20 Februari 2012

Wah, ada e-mail! Dari siapa ya...?


Akhir-akhir ini emang aku lebih sering e-mail2an bareng temen-temen penaku daripada pakai jejaring sosial lainnya. Nah, mau gimana lagi? FB udah gak karu-karuan. Twitter, akunya gaptek yang mau make meskipun aku punya akunnya. Ya udah deh, akhirnya kau putuskan untuk saling share cerpen lewat e-mail. Lebih leluasa soalnya nggak ada batasan dalam format penulisan, kan ada attach original file. :)

Nah, aku sih ya biasa-biasa aja kalau buka akun yahoomail. Setelah sebulan sebelumnya kau selalu harap-harap cemas kalau udah log ini e-mail. Kalau-kalau ada e-mail dari penerbit yang aku harapkan. Emang sih, sebelum aku kirim naskah print outku, aku pastiin dulu para penerbit yang mau aku kirimi naskah itu lewat e-mail. Eh, ternyata aku dikacangin. Ya udah, daripada kelewat sedih nungguin balesan e-mail yang nggak jelas. Akhirnya ku putuskan untuk kirim langsung lewat jasa pos.

 Sampai pada hari ini, aku tetep aja e-mail2an sama temen penaku buat kasih kritik-saran tentang karya-karya cerpen kita. Eh, tiba-tiba malam ini setelah aku bergelut dengan fungsi komposisi dan fungsi invers (maklum, besok ulangan matematika. hehehe) aku coba buat log in yahoomail lagi. Dan....! Tereng...tereng... Ternyata eh...ternyata..., ada e-mail yang tak terduga datang. Itu e-mail dari PENERBIT! Huaaaa..., saking aku kelewat seneng sampai bingung apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Hahhaha
Padahal isi e-mailnya cuma singkat.  Gini isinya:

Minggu, 19 Februari 2012

Dag Dig Dug, Tolak-Revisi-Terima?

Sudah terhitung seminggu naskah aku kirimkan ke alamat penerbit. Wuah, rasanya lega banget hasil pemforsiran tenaga dan pikiran selama empat bulan akhirnya selesai juga. Alhamdulillah, nggak nyangka banget waktu tau hasil print outnya ternyata banyak banget. Kayak-kayak bukan aku yang bikin.



Setiap hari aku tunggu dering telpon, berharap itu dari Bandung (Penerbit yang aku kirimi naskah emang di Bandung). Sampe-sampe setiap detik ayng aku jalani rasanya bergulir begitu lama. Memang benar kata orang-orang,"menunggu itu adalah hal yang paling tidak mengenakkan." Ok, I see... Dan ternyata, aku baru sadar bahwa aku baru nunggu selama seminggu! Padahal batas minimal sebuah buku turun dari editor adalah SATU BULAN! dan mungkin bahkan bisa memakan waktu selama SATU TAHUN jika memang antri naskahnya banyak! Oh God, make me be patient to wait the decision from publisher. :)

Yahh, berikut ini bocoran sajak-sajak ngawur dalam naskah buntelan kecil itu (berharap bisa mengimagine readers):

TAHAN!

Selasa, 07 Februari 2012

Berjuang menggapai mimpi diujung kuku!

Fiuh...! Sudah hampir empat bulan aku selalu bercumbu dengan 'dearest', lepi kesayanganku. Dan alhasil selama hampir empat bulan itu dearest kawan seperjuanganku itu aku ajak begadang sampe dia sering sakit. Yang kadang mogok makan lah, mogok mandi lah, mogok sekolah lah, sampe mogok hidup. huahaha

Dan hampir selama empat bulan itu aku dan dearest sama sama memforsir diri untuk mewujudkan satu hal. Buntelan Kecil . Hauakakakag. denger taglinenya aja udah bikin ngakak nggak tau ntar jadinya kayak apa. Alhamdulillah sih, liburan tahun baru cina kemarin tagline itu udah selesai tapi perlu ada revisi.
Alhasil, aku harus ngerevisi 'itu'. Dan rencananya minggu ini deadlineku buat ngirimin itu. Yah, meski agak ciut nyali takut-takut ntar ditolak mentah-mentah. Huufft, bismillah aja lah, kan ada Yang Maha Pengatur yakin aja deh semuanya udah diatur. Akupun inget kata mama, "Allah itu nggak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya!" Berbekal satu keyakinan seperti itu, aku akan terus maju mewujudkan mimpi di ujung kuku. Wish me luck! :)

"Cinta nggak butuh OMONG KOSONG! Tapi butuh perealisasian dalam KARYA (dalam bentuk apapun). Dari situ buktikan bahwa cinta itu NYATA bukan sekedar RASA!"

Untuk semua yang pernah keluar masuk dalam skema kecilku.

Kamis, 22 Desember 2011

Bungo Jeumpa, sebuah bingkisan kecil untuk pahlawan muda bangsa

Huuffft, dan akupun kembali berkhayal liar dengan sedikit paksaan dari teman-teman kelasku. "Beldaaa! Ayolah! Siapa lagi yang mau mengarang bebas buat lomba cerpen dalam rangka bulan bahasa dan hari pahlawan ini, kalo bukan kamu! Daripada sekelas kita didenda LIMA PULUH RIBU" Ujar salah satu temanku yang sengaja menekankan kata 'lima puluh ribu' disambut oleh batinku yang ke ge er an seolah-olah akulah satu-satunya harapan sekelas, hehehe. "Ok lah!" Aku sanggupi juga permintaan lima puluh ribu itu padahal deadline pengumpulan cerpen itu empat hari lagi dan I don't have any idea about the topic! 

Inilah buah karya pikiranku yang melalang buana, dan membuahkan satu trophy kecil sebagai pemenang kedua. It's more than enough. Thanks Allah. :) 


Bungo Jeumpa

          Malang, 29 Juni 2011
          “Ni, ngerasa gak sih kalo kita hidup di Indonesia selama ini cuma jadi orang munafiq?” Rafi memulai percakapan sepulang sekolah.
          “Hmm, kumat deh calon pak presiden kita yang satu ini. Kena setan apa nih, pak pres?” Bukannya menjawab pertanyaan Rafi, gadis mungil yang berjalan sejajar dengannya ini malah menggodanya.
          “Ya nggak kena setan apa-apa lah! Cuma aku baru sadar aja setelah tadi Pak Danar nerangin panjang lebar tentang sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.” Terang Rafi pada gadis itu.
          “Ouh, kirain kamu kesetanan nasionalisme. Lagi. Hahaha. Eh, tapi maksud kamu kita cuma jadi orang munafiq?” Nia akhirnya mulai mencerna pertanyaan awal Rafi.
“Heran aja sih, semua orang udah ngakuin kalau Indonesia itu udah merdeka. Yang katanya bebas dari belenggu penjajahan. Mana buktinya? Dimana-mana masih banyak anak sekolah yang tawuran, masih banyak anak jalanan yang nggak dapet pendidikan secara layak eh, boro-boro mau sekolah buat makan aja mereka musti ngamen dulu di perempatan lampu merah! Katanya, negara bakalan menjamin penuh atas kesejahteraan rakyatnya? Ckckckck. Ini mah namanya penjajahan ideologi.” Rafi masih menggandeng tangan Nia.
“Hmm, iya sih.”
“Kamu tunggu sini ya, aku ambil motor dulu.”  Rafi mulai melenggang menuju tempat parkir meninggalkan Nia di depan gerbang sekolah.
“He em.”
Adalah suatu hal yang lumrah jika, suasana sekolah sangat ramai apalagi ini kan memang jam bubaran anak sekolah.
‘Apaan sih itu rame-rame?’ Batin Nia saat melihat gerombolan siswa berseragam yang tak biasanya, ada garis kemarahan di raut wajah mereka.  
Nia semakin gugup saat dia telah yakin bahwa gerombolan itu adalah gerombolan SMA Bakti Nusa. SMA yang telah lama menjadi musuh bebuyutan sekolahnya.
“Aduh, mana Rafi lama banget ambil motornya!” Nia mulai mendesis ketakutan karena seperti yang bisa diprediksi sebentar lagi pasti ada keributan besar.
‘Pyaaar...’ Benar saja, sebuah batu berhasil memecahkan kaca jendela kantor resepsionis sekolah.
“Heh, lu! Keluar lu bajingan SMA Airlangga!” Teriak salah seorang pentolan tawuran itu.
“Keluar! Atau gue bakar ni sekolah!” Teriak anggota yang lain. Sontak Nia yang sedari tadi berdiri di depan pintu gerbang mualai beringsut mundur.
‘Satu…, Dua…,’ Nia mulai menghitung langkah kakinya, sebelum sebuah suara menghentikannya.
“Eh lu!” Teriak salah seorang siswa SMA Bakti Nusa denga suara parau.
‘Mampus deh!’ Batin Nia menyumpahi.
“Ya?” Nia memberanikan diri menjawab pertanyaan itu.
“Mau kemana lu? Kabur?” Tantang siswa itu.
“Eh, mau kemana ya suka-suka gue lah! Kaki kaki gue juga! Gak minjem lu!” Jawab Nia menyolot.
“Eh, berani lu ya?” Siswa itu mulai mencengkeram kedua tangan Nia.
“ Kurang ajar lu! Lepasin, gak?!” Nia mulai memberontak. Siswa SMA Bakti Nusa memang tak pernah pandang bulu jika telah memulai pertempuran. Mereka menganggap yang namanya musuh dimana-mana itu sama, gak peduli cewek atau cowok.
“Nggak akan gue lepasin sebelum pentolan bajingan sekolah lu keluar ngadepin kita!”
‘Rafi cepetan dong ambil motornya!’ Mohon Nia dalam hati.
“Lepasin!” Teriak Nia.
“Eh, berani ngelawan lu!” Cengkeraman itu semakin kuat sehingga menyebabkan Nia meringis kesakitan.
‘Buuk!’ Spontan suara hantaman keras itu membuat cengkeraman yang menyakiti Nia mengendur.
“Lepasin cewek gue!” Suara tenang itu, Rafi!
“Rafi…!” Teriak Nia lantas langsung memeluk Rafi.
“Lari Ni, cepet panggil bantuan! Aku beresin mereka dulu.” Bukannya menenangkan Nia, Rafi malah mengusirnya.
“Tapi…,” Kalimat Nia menggantung.
“Cepetan!”
**********

Rabu, 21 September 2011

Sebuah Dedikasi Untuk Tugas Bahasa Indonesia

Tepatnya, beberapa bulan yang lalu. Saat temanku, sebut saja 'Annisa' lagi kebingungan mencari inspirasi untuk tugas akhir bahasa indonesianya.Gilanya! Deadline waktu buat ngumpulin tugas B.Indo itu kurang dua hari! Dan, penderitaan itu berawal saat aku mengiyakan untuk mengerjakan tugas cerpen bebasnya itu. 'Ayolah Bel! Tugasku yang lain masih banyak! Kamu kan enak udah libur! Lagipula, ini kan juga bisa jadi wadah buat khayalan liarmu!' Rayu si Annisa. 'Ok lah!' Aku mengiyakan pasrah. Dengan gaya sok penulis best seller aku mulai melipat lengan baju dan mulai berperang dengan huruf-huruf di keyboard laptop. Walhasil, cerpen bebas buah karya khayalan liarku memakan waktu kurang lebih setengah hari. Mulai abis shubuh sampe sebelun adzan maghrib.Nah, ini dia hasil dari cerpen bebas itu.

Bintang  Kejora

 

~Bintang kejora~
Ku pandang langit penuh bintang bertaburan
Berkelap-kelip seumpama intan berlian
Tampak sebuah lebih terang cahayanya
Itulah bintangku bintang kejora yang indah selalu